Ilmu kalam

lmu Kalam

MAKALAH
ILMU KALAM
FAKTOR LAHIRNYA PERBEDAAN ALIRAN KALAM DALAM ISLAM
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas :
                                 Mata Kuliah                   :  Ilmu kalam
                                 Dosen Pengampu           : Amat Zuhri, M. Ag
Disusun oleh   :
GHULAM AKHYAR RIKZA      :    2032 111 011
NUR FATTA                                        :    2032 111 012
USHULUDDIN AKHLAK-TASAWUF
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN) PEKALONGAN
2011
BAB I
PENDAHULUAN
1.      Latar belakang
Sebelum filsafat barat dalam hal ini filsafat yunani masuk dan berkembang dalam dunia Islam, sebenarnya umat Islam sendiri telah terbiasa menggunakan pemikiran rasional untuk menjelaskan hal-hal yang berkaitan dengan Al-Qur’an, terutama yang belum jelas maksudnya.
Dalam perkembangannya, pemikiran-pemikiran tersebut telah melahirkan perbedaan pendapat dikalangan umat Islam sehingga melahirkan berbagai Mazhab dalam berbagai aspek.
Pada awalnya perbedaan ini memang tidak sampai menyangkut masalah-masalah inti dalam agama islam, seperti masalah keesaan Tuhan, tentang bagaimana itu akhirat, dan masalah-masalah lainnya.
namun pada akhirnya perbedaan-perbedaan ini semakin meruncing sehingga menimbulkan perpecahan umat Islam dan menjadikan umat Islam itu terpisah-pisah dalam berbagai Aliran .
2.      Rumusan masalah
a.       Apa faktor penyebab terjadinya perbedaan aliran-aliran kalam dalam umat Islam ?
b.      Bagaimana inti pendapat aliran-aliran ilmu kalam ?
3.      Tujuan
a.       Menjelaskan penyebab lahirnya perbedaan aliran-aliran ilmu kalam dalam umat Islam.
b.      Menjelaskan pendapat Aliran-aliran Ilmu kalam
BAB II
PEMBAHASAN
A.  Faktor lahirnya aliran ilmu kalam
Menurut Harun Nasution penyebab timbulnya berbagai aliran kalam dalam Islam adalah politik. Namun dalam perkembangannya muncul aliran-aliran kalam yang tidak selalu disebabkan faktor politik. Seringkali muncul perbedaan pendapat umat Islam yang berbeda latar belakang sosial dan budaya ketika menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an (Teologi).
Dengan demikian, aliran kalam selain lahir dari persoalan politik juga lahir dari persoalan teologi yang semuanya memiliki andil dalam perpecahan umat Islam kedalam berbagai Mazhab.
a.       Faktor Politik
Tepatnya berawal pada saat kepemimpinan ali bin abi thalib, yang mengacu pada peristiwa terbunuhnya khalifah sebelumnya Utsman Bin Affan . Pasalnya, pembaiatan Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah dipandang tidak sah atau tidak sempurna atau cacat . hal ini di karenakan yang mendesak Ali bin Abi Thalib agar bersedia menjadi khalifah adalah para pemberontak yang telah membunuh Utsman bin Affan .
Pada awalnya Ali menolak desakan para pemberontak, karena menurut Ali yang berhak memutuskan dan membaiat khalifah adalah peserta pertempuran perang badar . setelah muncul beberapa sahabat seperti Thalhah, Zubair dan Sa’ad yang tak lain adalah peserta perang badar yang kemudian membaiat Ali, sehingga setelah itu banyak yang membaiat Ali baik kelompok muhajirin maupun kelompok anshor.[1]
Setelah menjadi khalifah , Ali menerapkan banyak kebijakan untuk menertibkan kerusuhan yang masih terjadi pada kepemimpinannya . pada dasarnya kebijakan Ali hanya meluruskan kebijakan Utsman saat menjadi khalifah yang dipandang menjurus pada nepotisme .
kebijakan-kebijakan tersebut ternyata justru malah memicu pemberontakan yang lain yang didalangi oleh beberapa orang . bahkan muawiyah (gubernur syria) tidak mau mengakui kekhalifahan Ali bin Abi Thalib sehingga terjadi keteganngan dan puncaknya terjadi adalah perang siffin, yang berakhir dengan tahkim antara kedua belah pihak .
Sikap Ali yang menerima kecurangan Amr bin Al-Ash, mendapat kecaman dari sebagian tentaranya . mereka menganggap bahwa Ali telah berbuat salah sehingga mereka meninngalkan barisannya . mereka inilah yang nantinya di sebut golongan khawarij, yaitu orang yang keluar dan memisahkan diri .
Selain tentara yang menentang Ali , sebagian yang lain tetap mendukung pilihan Ali . mereka membenarkan penerimaan Ali terhadap tahkim yang ditawarkan oleh muawiyah . mereka inilah yang selanjutnya disebut dengan kelompok atau golongan syiah.
Menurut Harun Nasution masalah yang pertama kali muncul dalam persoalan kalam adalah masalah siapa yang kafir dan siapa yang bukan kafir . Maksudnya siapa yang telah keluar Islam dan siapa yang masih tetap Islam .
Khawarij, menurut golongan ini orang-orang yang terlibat dalam peristiwa tahkim, seperti Ali, Mu’awiyah, Amr bin Al-Ash,dan lainnya adalah kafir . Mereka berpedoman pada firman Allah pada Surat Al-Maidah ayat 44.
“ Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerah diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperintahkan memelihara Kitab-Kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya. karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, Maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir. “
Jadi menurut Khawarij orang-orang yang terlibat dalam tahkim tersebut telah keluar dari Islam dan wajib dibunuh.
Murji’ah, menurut golongan ini orang muslim yang berbuat dosa besar adalah masih tetap muslim dan bukan kafir , soal berdosa atau tidak atas dosa besar yang dilakukannya dikembalikan kepada Allah untuk mengampuni atau menghukumnya .[2]
b.    Faktor teologi
Detidakngan adanya perbedaan pemikiran umat Islam dalam memahami dan menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an maka sudah pasti akan berbeda pendapat-pendapatnya sehingga melahirkan aliran teologi dalam Islam
Aliran-aliran dalam Islam yang lahir karena perbedaan penafsiaran Al-Qur’an diantaranya adalah Qadariyah, Jabbariyah, Mu’tazilah danahlu al-Sunnah wa al-jamaah
1.      Qadariyah
pendapat golongan Qadariyah yaitu manusia mempunyai kebebasan dan kemerdekaan dalam menentukan perjalanan hidupnya . Atau dengan kata lain manusia mempunyai kebebasan dan kekuatan sendiri untuk mewujudkan tindakan-tindakan yang dilakukan .
Menurut Ibnu Nabatah, seperti yang dikutip Harun Nasution, Ma’bad al-Jauhani dan Ghailan al-Damsyqi yang berpaham Qadariyah mengambil paham ini dari seorang Kristen di Iraq yang masuk Islam .[3]
Iraq awalnya merupakan daerah yang lengkap dengan berbagai teori-teori dari berbagai substansi seperti agama Kristen , budaya Yunani, dan budaya Persia . hal ini terjadi karena Iraq pernah dipimpin oleh Iskandar agung dari Yunani .
Dengan latar belakang kebudayaan seperti yang disebutkan tadi tidak mengherankan kalau Ma’bad al-Jauhani dan Ghailan al-Damsyqi mempunyai paham Qadariyah yang berpendapat bahwa manusia itu mempunyai kebebasan dan kekuatan sendiri untuk mewujudkan perbuatan-perbuatannya .
2.      Jabbariyah
Paham ini pertama kali diperkenalkan oleh Ja’d bin Dirham yang kemudian diteruskan dan disebarkan oleh Jahm bin Safwan dari Khurasan. Menurut Ahmad Amin, bahwa kehidupan bangsa Arab yang tinggal ditengah-tengah gurun sahara memberikan kontribusi terhadap cara pandang dan cara hidup mereka .
Harun Nasution sendiri menjelaskan bahwa dalam situasi demikian masyarakat arab tidak melihat jalan lain untuk merubah keadaan mereka sesuai dengan keinginannya sendiri. Sehingga mereka banyak bergantung pada kehendak alam.
Golongan ini berpandangan bahwa manusia tidak berdaya menghaapi ketentuan Tuhan dan kehendak-Nya . kebahagiaan atau kesengsaraan hanyalah takdir dari Tuhan semata.
3.      Mu’tazilah
Sebenarnya golongan ini lahir pada era daulah Bani Umayyah, namun baru
menggemparkan pemikiran KeIslaman pada masa daulah Bani Abbas dalam massa yang cukup panjang .
      Abu al-Hasan al-Thara’ifi didalam karyanya menyebutkan “ mereka menamakan diri dengan Mu’tazilah ketika Hasan ibn ‘Ali membai’at Mu’awiyah dan menyerahkan jabatan Khalifah kepadanya . Mereka mengasingkan diri dari Hasan, Mu’awiyah dan semua orang lain . Mereka menetap di rumah-rumah dan masjid-masjid .Mereka berkata ‘kami bergelut dengan ilmu dan ibadah’.”[4]
      Paham ini melihat pelaku dosa besar seperti halnya paham Qadariyah . Bahwa pelaku dosa besar adalah Munafik, bahwa orang munafik kekal didalam neraka, dan termasuk kedalam kelompok orang beriman .
      Seperti yang terkutip dalam al-Intishar Abu al-Khayyath berkata,” tidak seorang pun berhak mengaku sebagai penganut Mu’tazilah sebelum ia mengakui a-Ushul al-Khomsah (lima dasar), yaitu al-tauhid, al-‘adl, al-wa’d wa al wa’id,al-manzilah bain al-manzilatain danal-amr bi al-ma’ruf wa al-nahy ‘an al-munkar . jika telah mengakui semuanya, ia baru dapat disebut penganut Mu’tazilah .[5]
4.      Ahlu Al-Sunnah wa al-Jamaah
Aliran ini muncul sebagai reaksi penolakan paham Mu’tazilah yang didirikan oleh Abu al-Hasan Al-Asy’ari (942 M) yang sebenarnya murid dari –Jubbay yang beraliran Mu’tazilah. Yang intinya ingin mempertahankan pendapatnya bahwa keadilan Tuhan tak dapat ditentukan dalam batasan-batasan manusia.[6]
Al-Asy’ari berkata “ pendapat yang kami percayai ialah berpegang kepada kitab Allah dan Sunnah Nabi serta riwayat apa saja yang diriwayatkan para sahabat tabi’in dan para imam hadits . kami berpegang kepada itu semua dan dan pendapat yang dipedomani oleh imam hanbal, serta menjauhi orang-orang yang menentang pendapatnya.”[7]
Golongan ini berpendapat bahwa perbuatan Tuhan tidak mempunyai tujuan. Yang mendorong Tuhan untuk berbuat sesuatu semata-mataadalah kekuasaan dan kehendak mutlak-Nya dan bukan karena kepentingan manusia atau tujuan yang lain .[8]
Ayat Al-qur’an yang digunakan sebagai dalil untuk memperkuat pendapat golongan Al-Asy’ari adalah :
“ Maha Kuasa berbuat apa yang dikehendaki-Nya.”
QS. Al-Buruuj : 16.
“dan Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka Apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya ?” [9]
“dan kalau Kami menghendaki niscaya Kami akan berikan kepada tiap- tiap jiwa petunjuk, akan tetapi telah tetaplah Perkataan dari padaKu: “Sesungguhnya akan aku penuhi neraka Jahannam itu dengan jin dan manusia bersama-sama.” [10]
            Aliran Khawarij, Murji’ah, dan Mu’tazilah sudah tidak ada lagi pada zaman ini, dan kini hanya tercatat sebagai sejarah . sedangkan yang masih ada hingga sekarang adalah Ahlu al-Sunnah wa al-Jamaah .

 

BAB III
KESIMPULAN
Dari berbagai pandangan yang penulis paparkan diatas dapat kita simpulkan bahwa adanya perbedaan pandangan terhadap pelaku dosa besar diantara banyak aliran yang telah kita sebut itu dikarenakan adalah sebagai berikut :
·         Persoalan politik yang terjadi yang berawal pada zaman kepemimpinan Ali bin Abi Thalib .
·         Adanya perbedaan penafsiran dari dalil-dalil yang ada dalam nash Al-Quran dan Hadits
Dari penyajian makalah yang singkat ini mudah-mudahan dapat menjadi tambahan ilmu bagi kita semua supaya kita mendapat tambahan referensi. Supaya kita tidak berfikir kerdil dalam mensikapi segala perbedaan yang mungkin akan timbul dalam kehidupan bermasyrakat. Dan mudah-mudahan menjadi ilmu yang bermamfaat.

 

DAFTAR PUSTAKA
Anwar, Rosihon, dan Abdul Rozak, Ilmu Kalam, Pustaka Setia, Bandung, 2003
Dahlan, Abd. Rahman, dan Ahmad Qarib, Aliran Politik dan Aqidah dalam Islam, LPH, Jakarta, 1996
Zuhri, Amat, Warna-Warni Teologi dalam Islam, STAIN PRESS, Pekalongan, 2008

[1] Amat Zuhri, Warna-Warni teologi dalam Islam, Pekalongan : STAIN Press, 2008, h. 9
[2] Rosihon Anwar dan Abdul Rozak, Ilmu Kalam, Pustaka Setia, Bandung,2003,  h.29
[3] Amat Zuhri, Warna-Warni teologi dalam Islam, Pekalongan : STAIN Press, 2008, h.22
[4] Abd. Rahman Dahlan dan Ahmad Qarib, Aliran Politik dan “Aqidah dalam Islam, LPH, Jakarta, 1996, h.149
[5] Abd. Rahman Dahlan dan Ahmad Qarib, Aliran Politik dan “Aqidah dalam Islam, LPH, Jakarta, 1996, h.151
[6] Amat Zuhri, Warna-Warni teologi dalam Islam, Pekalongan : STAIN Press, 2008, h25
[7] Abd. Rahman Dahlan dan Ahmad Qarib, Aliran Politik dan “Aqidah dalam Islam, LPH, Jakarta, 1996, h.194
[8] Rosihon Anwar dan Abdul Rozak, Ilmu Kalam, Pustaka Setia, Bandung,2003,  h.184
[9] QS.Yunus : 99
[10] QS. As-Sajadah : 13