Makalah Muhammad Abduh

Muhammad Abduh

MAKALAH
PMDI
MUHAMMAD ABDUH : MU’TAZILAH
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas :
                                 Mata Kuliah                   :  Pembaharuan Modern dalam Islam
                                 Dosen Pengampu           :  Tri Astutik Haryati, M.Ag
Disusun oleh   :
GHULAM AKHYAR RIKZA (2032 111 011)
YOANA BELA PRADITYAS (2032 111 010)
USHULUDDIN AKHLAK-TASAWUF
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN) PEKALONGAN
2011-2012
BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar belakang masalah
Muhammad abduh adalah anak dari Abduh Khairullah yang tinggal didesa biasa yang tidak mementingkan tempat dan tanggal lahir anak-anaknya. Setelah muhammad Abduh menginjak dewasa, Abduh terpaksa meninggalkan kampung halamannya, setelah kakeknya meninggal dunia.
Ajaran-ajaran muhammad Abduh mempengaruhi dunia Islam pada umumnya terutama dunia arab melalui karangan muhammad abduh sendiri, dan melalui tulisan-tulisan muridnya seperti muhammad Rida dengan majalah al-manar dan tafsir al-manar, Qasim Amin dengan buku tahrir al-mar’ah, farid wajdi dengan Dairah al-ma’arif dan karangan-karangan lainnya. Syekh Tantowi Jauhari, kaum intelek atasan mesir seperti Muhammad Husen Haikal dengan bukunya hidayah Muhammad Abu Bakar, Abbas Mahmud al-Akkad, Ibrahim A. Kadir al-Mazin, Mustafa Abd al-Razik, Ali Abd al-Razik dan tak boleh dilupakan saat Zaghlul bapak kemerdekaan mesir .
B.       Rumusan masalah
1.      Siapakah Muhammad Abduh itu  ?
2.      Bagaimana latar belakang pemikiran dan pembaharuan Muhammad Abduh ?
3.      Apa yang di maksud dengan Muta’zilahnisme ? dan bagaimana konsepnya ?

BAB II
PEMBAHASAN
A.    Riwayat hidup Muhammad Abduh
Muhammad Abduh lahri didesa Mahallat, Propinsi Gharbiyah, Mesir pada tahun 1265 H atau 1849 M. Dengan Ayahnya bernama Abduh Ibn Hasan Khairullah, berasal turki dan ibunya seorang arabyang silsilahnya sampai pada Umar bin Khattab. Muhammad abduh berasal dari keluarga petani yang sederhana taat beibadah dan cinta ilmu.[1]
Sejak kecil ia belajar membaca dan menulis dengan orang tuanya sendiri . dalam waktu dua tahun ia sudah hafal seluruh isi al-Qur’an. Muhammad abduh meneruskan pendidikannya di Thanta, tetapi ia tidak cocok dengan sistem pengajarannya karena mengutamakan hafalan tanpa pemahaman dan pengertian. Akhirnya ia pulang kerumahnya tetapi oleh orang tuanya tetap meminta Muhammda Abduh melanjutkan sekolahnya . maka ia kembali ke Thanta dan belajar kepada Syekh Darwisi.
Setelah menyelesaikan pendidikan di thanta,ia meneruskan pendidikannya di Al-azhar, tetapi ia sangat kecewa karena ia hanya memperoleh pendidikan agama saja dan sistem pengajarannya tidak berbeda dengan sistem pengajaran di thanta. Akhirnya ia bertemu dengan Jamaluddin Al-afghani dan ia memperoleh pengetahuan filsafat, ilmu kalam, matematika, teologi, politik dan jurnalis. Ia menyatakan bahwa metode pengajaran di Al-Azhar hanya bersifat verbalis yang hanya akan merusak akal dan nalar manusia. Rasa kecewa itulah yang menyebabkan ia menekuni berbagai masalah agama, sosial, politik, dan kebudayaan.   Termasuk terlibat dalam politik praktis yang menyebabkan ia di asingkan ke luar negeri (perancis) dengan tuduhan mendukung kegiatan pemberontakan yang di motori oleh ‘Urabi Pasya pada tahun 1882.[2]
Di Paris ia semakin bersemangat melancarkan kegiatan politik dan dakwahnya yang tidak hanya ditujukan untuk mesir namun untuk seluruh umat islam di dunia. Bersama jamaludin al-afgani ia menerbitkan majalah dan gerakan yang disebut dengan al-urwatul wutsqo. Ide gerakan ini membangkitnkan semangat umat islam didunia untuk melawan barat. Sayangnya usia majalah in tidak lama sebab pemerintah barat melarang majalah ini masuk kedaerah-daerah yang dikuasainya . setelah penerbitannya dihentikan, Muhammad Abduh ke Tunis, kemudian kembali ke Bairut, dan disanalah ia menyelesaikan karyanya yang berjudul risalah al-tauhid dan menulis beberapa buah buku lainnya . [3]
B.  Latar belakang dan tujuan pembaharuan
a.       Latar belakang
Keadaan masyarakat Eropa sesungguhnya telah menanamkan benih pengaruhnya sejak kedatangan ekspedisi prancis (Napoleon) ke Mesir pada tahu 1798. Namun secara jelas mulai dirasakan Muhammad Abduh pada saat ia menimba ilmu gerbang Al-Azhar. Waktu itu, lembaga pendidikan tersebut para pembina dan ulamanya telah terbagi kedalam dua kelompok. Kelompok pertama menganut pola taqlid,yang mana kelompok ini adalah yang mayoritas, yakni mengajarkan kepada siswa bahwa pendapat-pendapat ulama terdahulu hanya sekedar dihapal, tanpa mengantarkan pada usaha penelitian, perbandingan dan pentarjihan. Sedangkan kelompok kedua menganut pola tajdid (pembaharu) yang menitik beratkan uraian-uraian mereka ke arah penalaran dan pengembangan rasa.kelompok ini adalah kelompok minoritas.
 Pengetahuan Abduh tentang ilmu tasawuf dan dukungan Syekh Darwisy agar ia selalu mempelajari berbagai bidang ilmu, yang dipelajari ketika masih muda dulu,  maka tidak mengherankan jika Abduh lebih memihak kepada kelompok minoritas yang ketika itu dipelopori oleh  Syekh Hasan Al -Thawil yang telah mengajarkan filsafat dan logika jauh sebelum Al-Azhar mengenalnya. [4]
Pada sisi lain pertemuan Abduh dengan Al-Afgani menjadikan Abduh aktif dalam berbagai bidang sosial dan politik, dan kemudian mengantarkannya untuk bertempat tinggal di Paris, menguasai bahasa Prancis, menghayati kehidupan masyarakatnya, serta berkomonikasi dengan pemikir-pemikir Eropa ketika itu.
b.      Tujuan pembaharuan
1.      Modernisasi
            Dari latar belakangnya, Abduh berusaha merombak dan melakukan penyesuaian ajaran Islam dengan tuntutan zaman, seperti penyesuaian dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi. Ide penyesuaian inilah yang pada akhirnya disebut dengan moderniasasi. Sumber dari gagasan modernisasi Abduh tersebut bersumber dari penentangannya terhadap taqlid.
menurut Muhammad Abduh, Al-Qur’an  memerintahkan kepada ummatnya untuk menggunakan akal sehat mereka, serta melarangnya mengikuti pendapat-pendapat terdahulu tanpa mengikuti secara pasti hujah-hujah yang menguatkan pendapat tersebut.
2.      Purifikasi
                        Purifikasi atau pemurnian ajaran islam telah mendapat tekanan serius dari Muhammad Abduh berkaitan dengan munculnya bid’ah dan khurafah yang masuk dalam kehidupan beragama kaum muslimin.
3.      Reformasi
            Dengan agenda reformasinya, Muhammad Abduh berambisi untuk melenyapkan sistem dualisme dalam pendidikan di Mesir. Dia menawarkan kepada sekolah modern agar menaruh perhatian pada aspek agama dan moral. Dengan mengandalkan aspek intelektual saja sekolah modern hanya akan melahirkan pendidikan yang merosot moralnya
             Terhadap sekolah agama, seperti Al-Azhar, Muhammad Abduh menyarankan agar melakukan perubahan menjadi lembaga pendidikan yang mengikuti sistem pendidikan modern. Sebagai langkah awal, ia telah memperkenalkan ilmu-ilmu Barat kepada Al-Azhar, disamping tetap menghidupkan ilmu-ilmu Islam klasik yang orisinil, seperti Muqodimah karya Ibnu Khaldun.
Reformasi pendidikan pada perguruan tinggi Islam yang dilakukan Muhammad Abduh memfokuskan pada Universitas almamaternya, Al-Azhar. menurutnya bahwa kewajiban belajar itu tidak hanya mempelajari buku-buku kelasik berbahasa Arab yang berisi dogma ilmu kalam untuk membela Islam. Namun juga harus mempelajari sains-sains modern, serta sejarah dan agama Eropa, agar diketahui sebab-sebab kemajuan yang telah mereka capai.
Usaha awal reformasi Muhammad Abduh adalah memperjuangkan matakuliah filsafat agar diajarkan di Al-Azhar. Dengan belajar filsafat, semangat intlektualisme Islam yang vakum selama beberapa dekade diharapkan hidup kembali. .[5]
4.      Pembelaan Islam
            Melalui Risalah Al-Tauhidny, Muhammad Abduh tetap mempertahankan potret diri Islam. Hasratnya untuk menghilangkan unsur-unsur asing merupakan bukti ia tetap yakin dengan kemandirian Islam.
5.      Reformulasi
            Muhammad Abduh melakukan reformulasi dengan cara membuka kembali pintu ijtihad. Menurutnya, kemunduran kaum muslim disebabkan oleh dua faktor, yaitu internal dan ekternal. Muhammad Abduh dengan reformulasinya menegaskan bahwa Islam telah membangkitkan akal pikiran manusia dari tidur panjangnya.[6]
C.  Konsep Muta’zilahisme
Tulisan-tulisan tentang teologi pemikran Muhammad Abduh telah muncul dalam berbagi majalah, namun tak satupun tulisan yang menjelaskan corak sebenarnya tentang teologi Muhammad Abduh.karena memang hanya membahas pendapat-pendapat teologi Muhammad Abduh bukan sistem teologinya .
Dengan memperbandingkan pendapat teologi tertentu dengan teologi sejenis dari aliran-aliran yang ada, para penulis berbeda kesimpulannya tentang teologi pembaharuan ini.
Menurut adams, teologi Muhammad Abduh termasuk kedalam aliran Ahlusunnah. Tambahnya, pada dasarnya memang tidak jauh berbeda dengan teologi pada umumnya yang diterima. Lebih jauh horten berpendapat bahwa Muhammad Abduh dalam banyak hal mengikuti Ahlusunnah secara ekstrim. Menurut Hourani menyebutkan bahwa teologi Muhammad Abduh bercorak al-Ghazali dan al-Maturidi, serta dipengaruhi Muta’zilah.[7]
Mengetahui corak teoliginya sebenarnya sangat penting karena untuk mengetahui relevansi pemikiran-pemikiran pembaharuannya dengan zaman kemajuan ilmu pengetahuan dan dan teknologi yang sangat pesat dewasa ini.
Dalam buku Risalah al-Tawhid dan Hasyiah ala Sharh al-Dawwani li Al-Aqaid al-Adudiah dapat di tarik kesimpulannya . kalau dalamRisalah ia berpendapat netral, sedang didalam Hasyiah ia memihak. Buku ini akan membantu mengetahui corak teologi Muhammad Abduh yang sebenarnya .[8]

BAB III
KESIMPULAN
           Syeikh Muhammad Abduh berjasa dalam memberi gambaran yang jelas tentang keperluan umat Islam kepada pembaharuan, khususnya dalam bidang pendidikan. Ide pembaharuan Syeikh Muhammad Abduh dalam bidang pendidikan, khususnya di Universitas Al-Azhar telah memberi kesan yang mendalam terhadap perkembangan ilmu pengetahuan umat Islam. mengganti metode pengajaran yang bersifat hafalan kepada penalaran atau lebih dekat dengan diskusi.
            Masalah persatuan umat Islam difokuskan kepada masalah-masalah pokok dan penting kaum Muslimin, penekanan akan peran akal dan menghindari bertaqlid, mendinamiskan peran ijtihad dan penekanan terhadap masalah kemerosotan masyarakat Muslim dan penyimpangan-penyimpangan terhadap ajaran Islam.
DAFTAR PUSTAKA
         LKS kelas XII. Sejarah Kebudayaan Islam, Surakarta: Putra Nugraha.
         Madjid, Nurcholish. 1994. Khazanah Intelektual Islam, Jakarta: Bulan Bintang.
         Nasution, Harun.1996. Pembaharuan dalam Islam: Sejarah Pemikiran dan Gerakan, Jakarta: Bulan Bintang.
         Nasution, Harun.1987. Muhammad Abduh dan Teologi Rasional Mu’tazilah, Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia.
         Nizar, Samsul. 2009. Sejarah Pendidikan Islam; Menelusuri Jejak Sejarah Pendidikan Era Rsullullah Sampai Indonesia, Jakarta: Kencana.
Rahman, Fazlur. 1995. Islam dan Modernitas: Tentang Transformasi Intlektual, terj. Ashin Muhammad, Bandung: Pustaka.


[1] Lks Sejarah Kebudayaan Islam, Fitrah . h.10
[2] Lks Sejarah Kebudayaan Islam, Fitrah . h.11
[3] Harun Nasution, Muhammad Abduh dan teologi… , h.17
[4] Harun Nasution , PMDI Sejarah Pemikran dan gerakan, , h.61
[5] Fazlur Rahman, Islam dan Modernitas: Tentang Transformasi ... , h,70
[6] Samsul Nizar, Sejarah Pendidikan Islam; Menelusuri Jejak… , h.246
[7] Harun Nasution, Muhammad Abduh dan teologi… , h.3
[8] Harun Nasution, Muhammad Abduh dan teologi… , h.4